Heboh Sidang Dugaan Penipuan Oknum Kepala Koperasi BNI Siantar Berakhir Ricuh, Korban Mengamuk dan Hadang Mobil Tahanan

10-7-2019-Sidang-PN-Siantar-Ricuh.jpg

SIANTAR, metro24jam.com – Puluhan korban dugaan penipuan oleh oknum Kepala Koperasi Bank Nasional Indonesia (BNI) mengamuk di Kantor Pengadilan Negeri (PN) Siantar, Jalan Sudirman, Siantar Barat, Rabu (10/7/2019) siang.

Suasana sempat ricuh sesaat setelah sidang beragendakan mendengarkan keterangan saksi korban dengan terdakwa Rahmad (Kepala Koperasi BNI) berakhir.

Sidang berlangsung sekitar 2 jam. Tiga korban memberikan kesaksian dalam kepada majelis hakim yang dipimpin Danar Dono, didampingi Risbarita dan M Iqbal sebagai hakim anggota.

Bertindak sebagai Jaksa Penuntut Umum (JPU), jaksa Lince Jernih Margaretha dan Robert Damanik dari Kejari Siantar. Terdakwa Rahmad terlihat didampingi tiga penasehat hukumnya. Puluhan warga yang mengaku sebagai korban Ramhad pun menghadiri persidangan itu.

Untuk mendengarkan keterangan saksi korban, sidang kemudian ditunda dan akan dilanjutkan pekan depan.

Usai sidang, para korban terus mengejar Rahmad hingga menuju ruang sidang. Tak hanya mengejar, mereka juga berteriak. “Penipu kau Rahmad! Kembalikan uang kami!” teriak salah seorang ibu.

Para wanita itu berulangkali mengucapkan kalimat serupa. “Itu uang pensiunan kami. Bukan uang hasil korupsi itu. Uang halal itu,” teriak salah seorang ibu tua.

Aksi saling dorong dengan pengawal tahanan Kejari Siantar pun sempat terjadi ketika para korban berupaya menerobos ke ruang tahanan untuk memastikan Rahmad berada di sana.

“Kami mau lihat si Rahmad. Penipu itu. Jangan dilepaskan penipu itu,” ujar salah seorang korban.

Suasana akhirnya dapat diredam setelah salah seorang pegawai PN Siantar meminta para korban untuk tenang.

Lalu, sekitar tiga jam kemudian, suasana kembali memanas. Saat itu, Rahmad hendak dibawa ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas IIA Pematangsiantar di Jalan Asahan, Kecamatan Siantar, Simalungun.

Ketika Rahmad sudah berada di dalam mobil tahanan, para korban juga meminta untuk melihatnya dan memastikan Rahmad berada di dalam.

“Kami mau lihat penipu itu. Nanti dibawa ke hotel dia. Kayak minggu lalu, dia dibawa dari samping (kantor pengadilan),” ujar salah satu korban.

Mendengar itu, pengawal tahanan mencoba meyakinkan bahwa Rahmad berada di dalam. Sayangnya, para korban tetap tidak percaya.

Oleh karena itu, pengawal tahanan kemudian mempersilakan beberapa korban untuk masuk ke mobil tahanan dan melihat Rahmad.

Meski sudah ada korban yang melihat Rahmad berada di dalam mobil, namun ada pula korban lainnya yang tidak percaya.

Bahkan, para korban sempat adu mulut dengan keluarga Rahmad yang coba mengabadikan gambar maupun video aksi itu.

“Kalian keluarga penipu, mau foto-foto lagi. Harusnya malu lah,” kata salah seorang korban.

Keluarga Rahmad hanya bisa terdiam dan sejurus kemudian meninggalkan lokasi kantor PN Siantar.

Tak sampai di situ, saat mobil tahanan hendak berangkat, beberapa korban duduk di jalan yang akan dilalui mobil. “Kami mau lihat muka si Rahmad,” kata mereka.

Salah seorang pengawal tahanan sempat menjelaskan bahwa tugas mereka hanya mengantar dan menjemput tahanan. “Kalau mau lihat tahanan, Le lapas bu,” kata salah seorang pengawal tahanan.

Para korban sempat berteriak histeris di luar ruang sidang. (Zega/metro24jam.com)

Blokade itu terjadi sekitar 15 menit. Hingga akhirnya, korban lainnya menenangkan korban yang duduk di aspal tersebut. Mereka meyakinkan bahwa Rahmad sudah berada di dalam mobil tahanan.

Hotma Rumansi Sihombing, salah seorang korban menjelaskan, lebih dari 20 korban penipuan yang dilakukan Rahmad. Kerugiannya mencapai Rp20 miliar.

“Kalau kami, satu keluarga ikut koperasi itu, ada 3 orang. Uang kami [yang digelapkan] Rp1,3 miliar,” katanya.

Hotma melanjutkan, hingga kini belum ada ganti rugi dari BNI atas persoalan tersebut.

“Padahal, koperasi ini produk BNI, pegawainya (koperasi) pegawai BNI, pakai stempel BNI, kantornya di Gedung BNI [Siantar],” ungkapnya.

Hotma membeberkan, dia mulai bergabung ke koperasi itu sejak tahun 2013. Saat itu, Rahmad menawarkan koperasi tersebut dengan iming-iming bunga sebesar 1,5 persen.

Soal aksi blokade tersebut, Hotma menuturkan, itu karena mereka khawatir Rahmad tidak ditahan.

“Sejak tahun 2018 si Rahmad ini sudah jadi tersangka. Tapi, sempat tidak ditahan. Setelah saya melaporkan ke Hotman Paris, dia baru tahan. Makanya kami takut dia dilepaskan,” terangnya.

Hotma berharap, majelis hakim menjatuhkan hukuman yang seadil-adilnya kepada Rahmad. “Kalau bisa dipenjara seumur hidup,” harapnya. (zeg)