Heboh Siantar Sitalasari, Daerah Tertinggi Kekerasan Anak dan Perempuan di Siantar

20181120044221-kan.jpg

Siantar,hetanews.com- Kecamatan Siantar Sitalasari, tercatat sebagai daerah tertinggi tingkat kekerasan anak dan perempuan, di Kota Siantar, pada tahun 2018.

Data itu, diperoleh Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Anak Kota Siantar, yang menerima laporan berbagai kasus yang dialami perempuan dan anak.

Korban perempuan berjumlah 33. Meliputi, penelantaran dalam keluarga berjumlah 11 kasus, asusila/pencabulan berjumlah 6 kasus, penghinaan 5 kasus, dan KDRT berjumlah 12 kasus.

Jenis kasus melibatkan perempuan berjumlah 10. Meliputi, penghinaan 1 kasus, pengrusakan 1 kasus, penelantaran 6 kasus, dan penganiayaan 2 kasus.

Korban anak berjumlah 25. Meliputi, perbuatan cabul 7 kasus, kekerasan terhadap anak 10 kasus, penelantaran anak 6 kasus dan penganiayaan 2 kasus.

Sedangkan jenis kasus  yang melibatkan pelaku anak berjumlah 3. Meliputi, pencurian 2 kasus dan pemukulan 1 kasus.

Dari 8 kecamatan di Siantar, Sitalasari dan Siantar Timur menjadi urutan pertama dan urutan kedua, jumlah kasus perempuan dan anak di Siantar.

Berdasarkan data tersebut, Kelurahan Gurilla, Kecamatan Siantar Sitalasari yang paling ditemui banyak kasus.

Data yang diperoleh Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Anak ini, tentu tidak sebanding dengan jumlah kasus yang dilapor warga ke pihak kepolisian.

Tentu saja hal itu bisa terjadi, mengingat minimnya informasi yang diketahui warga, terkait penanganan kasus yang dilakukan oleh Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Anak selama ini.

Kepala Bidang Perempuan dan Anak (Kabid PA), Sri Bulan Barus, mengatakan, pihaknya selalu berupaya meminimalisir jumlah kasus dengan melakukan mediasi.

Menurutnya, kasus kekerasan dalam rumah tangga atau kasus kecil yang melibatkan anak dan perempuan dapat diselesaikan tanpa harus menempuh jalur hukum.

“Kita selalu berupaya melakukan mediasi. Diversi, dan tetap berkordinasi dengan pihak kepolisian. Supaya kasus itu bisa diselesaikan dengan cara berdamai,” kata Sri, diwawancarai Hetanews, Senin (19/11/2018) siang kemarin, di ruanganya.

Sri Bulan Barus menilai, Kelurahan Gurilla masuk dalam zona rawan anak dan perempuan. Pasalnya, kata dia bagian wilayah Kecamatan Sitalasari ini sedang mengalami perluasan teritori.

“Gurilla ini mungkin karena ada pelebaran jalan. Banyak orang orang di sana yang kita tidak tau, ini juga sudah kita sampaikan ke Camat, dan kami sudah ke sana,”katanya menambahkan.

Sri mengakui, pihaknya sudah melakukan monitoring dan supervisi untuk meninjau lokasi layak anak di 8 kecamatan di Siantar. Hasilnya, masih banyak ditemui lingkungan di tiap kelurahan yang tidak ramah anak dan rentan terhadap kekerasan perempuan akibat faktor ekonomi keluarga.