Heboh Pertahankan Rumah Tak Layak Huni diantara Kuburan

Siantar,  – Sepetak tanah yang diwariskan orang tua Andi Susanto nyaris direnggut untuk dijadikan kuburan. Ia pun membangun gubuk dari anyaman bambu diantara kuburan-kuburan tua yang kini tak terpisahkan dari rumahnya.

Andi Susanto (59) ditemui dikediamannya di Kelurahan Mekar Nauli, Kecamatan Siantar Marihat, Selasa (3/12/2019) sore, lebih dulu bertegur sapa. Dengan ramah, ayah dua orang anak ini menanyakan kehadiran awak media.

Susanto bercerita, belum lama ini ada beberapa orang datang ke rumahnya untuk melakukan survey. Kata dia, yang datang itu tak lain merupakan pegawai pemerintah yang ingin mendata rumahnya.

Rupanya Susanto sudah terbiasa mendengar angin segar bahwa rumah ukuran 4 x 6 miliknya didata untuk bedah rumah. 

"Kalau orang orang yang mau nanya kesini sudah seringnya. Tapi mungkin belum rezeki, belum dikasih sama yang diatas," ungkapnya.

Meski rumahnya masuk kategori tak layak huni, Susanto tak berkeluh kesah. Ia tetap membanting tulang setiap harinya untuk mengumpul pundi pundi. 

Susanto tak sendiri. Istrinya Ngatiem dan anak bungsunya ikut kerja keras ke luar kota demi mengumpulkan dana memperbaiki rumah mereka. "Bulan 6 nanti mereka pulang, disana mereka kerja di perkebunan sawit," imbuhnya. 

Susanto menerima jika sepetak lahan tempat rumahnya itu pernah dicaplok untuk tempat pemukiman umum [TPU]. Ia tak lagi menyesali itu, namun tak bakal membiarkan lagi dijadikan kuburan. 

"Kalau uang sudah terkumpul, batas kuburan dengan rumah ini rencananya dibangun tembok setinggi satu meter keliling. Kalau bangunan rumah ini biar gitu dulu lah," ucap pria bersuara serak ini. 

Andi Susanto

Tak cuma janji untuk membedah rumah, Susanto juga tak terdaftar sebagai penerima PKH dan Bantuan Pangan Non Tunai. Padahal, kondisinya rumahnya, kamar mandi pun tak ada.

Susanto berujar, ia juga pernah mengurus administrasi kependudukan, karena KTP yang ia miliki masih KTP lama. Meski ingin mengurus KTP Elektronik, ia harus pulang karena blanko KTP tak ada. 

"KTP ku kan KTP yang lama itu, pas udah ngurus katanya blanko-nya habis. Jadi aku bilang, aku maunya nunggu sampai satu bulan, tapi kata orang itu kosong," kisahnya. 

Sedikit kesal karena KTP nya tak diurus, Susanto lalu membatin. Saat itu dia pun berujar kepada salah seorang petugas Disdukcapil Pematangsiantar. 

"Jadi ku bilang, 'Jangan karena aku orang gak punya kalian bilang gak ada [Blanko]. Kalau sama orang yang berduit kalian kasih'," ucapnya Susanto mengisahkan.

Baca juga: