Heboh Kinerja Bea dan Cukai Harus Maksimal, Rokok Luffman Ilegal Masih Bebas Dijual di Simalungun, Perusahaan Resmi Dirugikan

20190611081700-aac1.jpg

Siantar, hetanews.com – Masih beredarnya rokok ilegal seperti merk Luffman di wilayah Kabupaten Simalungun, harus serius disikapi oleh pihak Bea dan Cukai.

Rokok Luffman tanpa pita cukai itu, tidak sulit ditemukan di kios – kios penitipan, seperti hasil penelusuran wartawan saat berada di Kecamatan Dolok Batu Nanggar, Kabupaten Simalungun.

Jika tidak disikapi dengan cepat, maka rokok ilegal tersebut akan membuat Negara rugi dan termasuk perusahaan rokok resmi, yang membayar cukai maupun pajak.

Seperti penuturan salah seorang pemilik kios rokok, Marni, bahwa rokok Luffman tersebut bisa terjual sampai 3 slop dalam seminggu dan harganya terjangkau, yaitu Rp 8.000 per bungkus.

“Mungkin karena harganya murah ya bang,”ujar perempuan gemuk tersebut, sambil mengambil rokok Luffman, Senin (10/6/2019), lalu, di Serbelawan, Dolok Batu Nanggar.

Di tempat berbeda, Atisa, pemilik kios di Kecamatan Bandar Huluan, juga mengatakan hal yang sama. Banyak masyarakat yang mencari rokok Luffman tanpa pita cukai itu, karena harganya murah, ujarnya.

"Banyak yang cari bang, karena harganya murah,”ucapnya.

Mematikan Pabrik Rokok

Beredarnya rokok tanpa cukai ini, mengancam keberlangsungan perusahaan rokok yang resmi membayar cukai bagi negara.

Tidak hanya perusahaan rokok (pengusaha,red), namun tenaga kerja, dan termasuk petani tembakau, juga ikut kena imbasnya.

Karena di pasaran terjadi persaingan tidak sehat antara rokok legal dan ilegal.

Masyarakat umumnya tidak paham dengan rokok ilegal, yang terpenting mereka bisa beli dengan harga murah meriah.  

"Kalau terus beredar rokok ilegal dan tanpa cukai bisa saja mengancam perusahaan rokok yang resmi. Hendaknya pihak Bea dan Cukai kerja ekstra untuk menangkap pengedar rokok ilegal,"ungkap T  Purba, salah seorang tokoh pemuda di Dolok Batu Nanggar.

Dikatakannya, bahwa peredaran rokok ilegal tersebut, tidak susah  ditemukan di wilayah Kabupaten Simalungun, seperti di  Kecamatan Dolok Batu Nanggar, Bandar Huluan, Pematang Bandar, Gunung Malela, dan Gunung Maligas.

"Jadi di beberapa kecamatan di sekitar Dolok Huluan banyak rokok tanpa cukai seperti Luffman beredar, "ujar Purba dan kembali meminta pihak terkait agar secepatnya memberantas rokok ilegal.

Menteri Mencabut Fasilitas Cukai Rokok

Informasi yang diterima media ini, bahwa banyaknya rokok dan minuman yang beredar tanpa cukai, maka turunlah surat Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian No. IPA.4-222/SES.M.EKON/05/2019 tanggal 6 Mei 2019, hal penyampaian risalah dan  surat Direktur Jenderal Bea Cukai No.ND-466/BC/2019 tanggal 14 Mei 2019, hal penghentian pelayanan dokumen CK-FTZ , serta disampaikan kepada pemilik perusahaan, bahwa telah dicabut fasilitas cukai atas barang berupa rokok dan minuman beralkohol tertanggal 17 Mei 2019.

Dengan adanya surat Menteri dan Dirjen Bea Cukai, artinya dan seharusnya tidak ada lagi fasilitas fiskal  (rokok/minuman tanpa cukai) yang beredar di kawasan bebas Batam, tapi nyatanya, buka hanya di kawasan Batam, tapi rokok-rokok ilegal tanpa cukai itu kini beredar bebas di Sumatera Utara.

Perang Terhadap Rokok Ilegal


Fajar Patriawan.

Sebelumnya, Fajar Patriawan, Kasi Penindakan dan Penyelidikan menjelaskan, bahwa pihak Bea dan Cukai Pematangsiantar akan kerja ekstra untuk meminimalisir peredaran rokok ilegal yang nyata – nyata merugikan Negara.

Bahkan Kantor Bea dan Cukai Siantar, ditargetkan menurunkan peredaran rokok ilegal hingga 3 persen untuk tahun 2019 ini, dan tahun 2018 lalu telah mencapai 7 persen.

"Kita akan melibatkan seluruh pemerintah daerah, baik di kabupaten maupun kota, agar bersama-sama memerangi rokok ilegal. Kami juga akan melibatkan penegak hukum baik Polisi, Kejaksaan dan bahkan TNI,"kata Fajar saat disambangi di ruang kerjanya, Rabu (22/5/2019), lalu, di jalan Sisingamangaraja no 66 kota Siantar.

Menurutnya, petugas Bea dan Cukai Pematangsiantar telah  bekerja keras memberantas rokok  ilegal.

Dibuktikan, pihak Bea dan Cukai Pematangsiantar telah mengamankan  101 ribu batang rokok Luffma, periode bulan 1 Februari sampai 8 Mei 2019.

Disamping rokok Luffman yang ilegal, Bea dan Cukai Pematangsiantar juga menemukan rokok ilegal lainnya seperti Maxx, Nidji, Fel Super, Sakura, Bintang, Garden, SM King, Bravo, Victory, Rohas, dan Gudang Cengkeh.

"Diantara rokok-rokok Ilegal itu, rokok Luffman paling banyak beredar, dan daerah rawat peredarannya, yaitu daerah Dairi, Kabupaten Simalungun dan Karo,"tuturnya.

Berita yang dihimpun media ini, Kanwil Direktorat  Jenderal Bea dan Cukai (DJCC) Sumatera Utara melakukan penangkapan terhadap jutaan batang rokok ilegal yang diangkut mengunakan tronton yang akan diedarkan di wilayah Sumatera Utara. Penagkapan ini, terjadi di salah satu gudang di jalan Kerakatau Medan.

Penangkapan itu, pada 23 Mei 2019, lalu, dimana truk tronton tersebut, memuat 450 box atau 7.200.000 batang rokok ilegal, dan selanjutnya  pada 27 Mei 2019, lalu, menangkap 108 box atau 1.080.000 batang rokok ilegal, berupa rokok polos tanpa cukai.

Diharapkan pemberantasan rokok-rokok ilegal ini benar-benar tuntas, karena apabila rokok terus membanjiri pasar (kios-kios), maka akan mempengaruhi dana bagi hasil cukai tembakau (DBHCT) yang diterima kabupaten/kota.

Bahkan, tahun 2019 ini, setidaknya ada 5 orang dipenjarakan karena bertindak sebagai distributor rokok polos.

Dalam undang-undang cukai juga menyebutkan, tidak memungkinkan penjual, baik grosir ataupun toko eceran untuk tidak terlibat memperjual belikan rokok tanpa cukai. Karena siapapun yang terlibat  memperjualbelikan rokok polos, menimbun, dan menyimpan dikenakan sanksi pidana penjara 1 sampai 5 tahun.