Heboh Effendi Gazali: Misal ‘Tampang Boyolali’ Dilaporkan Polisi dan Berhasil, Pilpres Masih Ada Nggak Ya?

kompastotok-wijayanto_20180912_084255.jpg


Sebarkan ~ Pakar Komunikasi Politik Effendi Gazali mempertanyakan harapan pihak yang melaporkan Prabowo Subianto jika laporan tersebut berhasil menjebloskan Prabowo ke penjara.

Dilansir TribunWow.com dari saluran Youtube Indonesia Lawyers Club, hal tersebut disampaikan Effendi Gazali saat dirinya menjadi salah satu pembicara dalam acara Indonesia Lawyers Club (ILC) yang tayang di tvOne pada Selasa (6/11/2018) malam.

“Saya membayangkan, misalnya ‘tampang Boyolali’ ini dilaporkan ke polisi kemudian berhasil. Dengan demikian pak Prabowo tidak bisa maju terus menjadi calon presiden, apa kita masih pemilu presiden nggak ya kalau misalnya berhasil?” tanya Effendi.

“Jadi masing-masing kubu ini mengajukan terus laporan polisi, kemudian salah satunya berhasil. Kita masih ada pemilu presiden nggak nih?” tanyanya lagi.

Pertanyaan itu dilontarkan Effendi menanggapi saling serangnya kedua kubu yang kemudian berakhir dengan saling lapor ke polisi.

Pertanyaan ini diajukan Effendi untuk memperjelas apakah kedua kubu paham resiko yang akan terjadi bilamana secara kebetulan laporan yang diajukan salah satu kubu berhasil.

“Atau anda cuma masing-masing terus memanfaatkan momentum dan nggak tahu persis di ujungnya tuh seperti apa yang benar-benar kita hadapi,” katanya.

Dalam pernyataannya di ILC, Effendi menegaskan bahwa pernyataan Prabowo Subianto tentang “Tampang Boyolali” ini tidak boleh terlepas dari konteksnya.

Menurut Effendi, pernyataan Prabowo itu berada di konteks bercanda.

“Setiap ujaran komunikasi itu ada konteksnya. Tapi tiba-tiba hilang ketika ia dibawa keluar dari konteks itu. Gitu kan? Misal siapa yang hadir, ujaran apa sebelumnya, disampaikan dalam suasana yang seperti apa. Tiba-tiba dibawa lari dari semua itu,” jelasnya.

“Sehingga muncullah laporan-laporan (ke pihak kepolisian, red) yang mana tidak berguna, juga melawan ajakan dari bapak presidennya (Jokowi, untuk melaksanakan kampanye damai, red),” imbuhnya.

Effendi lantas bertanya kepada pembicara lain, Politisi PDI-P Budiman Sudjatmiko soal siapa yang melaporkan Prabowo Subianto ke pihak kepolisian terkait istilah “Tampang Boyolali”.

“Ini anggota tim sukses bukan yang melaporkan? Nggak? Tapi simpatisan? Ini melawan bapak presidennya lho,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Budiman Sudjatmiko pun memberikan jawabannya.

Ia menerangkan bahwa yang melapor adalah warga Boyolali.

Dan warga Boyolali, jelasnya, belum tentu adalah pendukung Presiden Jokowi.

“Warga Boyolali, bisa jadi bukan pendukungnya pak Jokowi, belum tentu. Karena ketika bicara ‘tampang Boyolali’, artinya dia bicara soal seluruh warga,” jelasnya.

Menurut Budiman, jika berbicara soal Boyolali, maka disana tidak hanya ada pendukung Jokowi saja.

“Ada yang golput juga, ada yang pendukung pak Prabowo juga,” ujarnya.

Menanggapi itu semua, Effendi pun menegaskan perlunya kedua kubu untuk dapat memposisikan diri menjadi pihak lawan dan memikirkan dengan cermat segala sesuatunya.

“Coba masing-masing kita pikirkan, kita coba mengambil posisi orang lain. Kalau lagi memahami pak Prabowo bicara, coba kalau anda yang jadi pak Prabowo. Atau sebaliknya, kalau pak Jokowi yang lagi bicara, coba lawannya mengamati bagaimana kalau anda menjadi pak Jokowi, atau pendukungnya,” ujarnya.

Semua ini dimaksudkan, ujarnya, agar terciptanya pemilu yang damai dan penuh suka cita.
Sumber : TrbunWOW