Heboh Dikhawatirkan Jadi Sarang Penyakit, Pemkab Simalungun Diminta Tutup Penangkaran Walet di Kecamatan Bandar

SIMALUNGUN, metro24jam.com – Masyarakat Kecamatan Bandar Jalan Karet Pasar 1 B Desa Perdagangan 3, Kecamatan Bandar, meminta Pemkab Simalungun melalui dinas terkait untuk menertibkan sejumlah usaha penangkaran burung walet di Kecamatan Bandar.

Keberadaan gedung-gedung bertingkat yang hanya dihuni burung dan nyamuk itu dinilai meresahkan karena diduga menjadi sarang penyakit menular.

“Akhir-akhir ini warga mulai resah dan merasa was-was. Sebab, penyakit menular yang dapat mengakibatkan kematian ditakutkan menyebar dan menular melalui gigitan nyamuk demam berdarah (Aedes aegypti ) yang mungkin bersarang di kolam air penangkaran burung walet,” kata Hutagalung, seorang warga di sana saat ditemui persis di depan deretan ruko penangkaran burung walet di Jalan Cengkeh, Kelurahan Perdagangan 3, Kecamatan Bandar, Sabtu (7/12/2019), siang.

Hutagalung menilai, karena nilai ekonomisnya yang cukup besar, para pengusaha akhirnya kurang peduli dengan penyakit yang mungkin ditimbulkan terhadap masyarakat.

“Dalam hal ini Pemkab Simalungun terkesan tutup mata. Penangkaran walet ini harusnya jauh dari pemukiman warga,” katanya lagi.

Hal itu diamini seorang warga lainya yang ditemui di seputaran Jalan Sandang Pangan, Kelurahan Perdagangan 1. Pria bermarga Siregar itu mengaku pasrah dan tak bisa berbuat ataupun mencegah penangkaran walet beroperasi.

Dinas terkait, menurut dia, sampai saat ini tidak sekalipun melakukan penindakan dan penertiban terhadap rumah-rumah burung itu.

Tak ayal, Siregar pun menduga, ada orang kuat tertentu yang sengaja melindungi hingga dinas terkait terkesan melakukan pembiaran.

“Jumlahnya menjamur. Tapi selama ini mungkin tidak ada memberi masukan bagi PAD. Sudah banyak masyarakat yang mengeluhkan keberadaan usaha sarang burung walet ini, terutama bunyi ribut kaset suara burung yang menganggu kenyamanan saat masyarakat melaksanakan ibadah siang dan malam,” katanya.

Menurut dia, keluhan masyarakat ini sudah berulang kali disampaikan dan terima anggota dewan yang sedang melaksanakan reses.

“Tapi begitulah! Kemungkinan setelah selesai acara reses, selesai pula yang disampaikan warga kepada anggota dewan terhormat itu,” ketusnya.

Dia pun meminta agar Pemkab Simalungun membentuk tim terpadu untuk mengecek izin usaha burung walet, termasuk apakah pengusahanya sudah membayar pajak atau tidak.

“Kalau ada terbukti usaha burung walet tersebut tidak membayar pajak, maka lebih baik ditutup saja,” pungkasnya.

Camat Bandar, Amon Carles Sitorus, ketika dikonfirmasi terkait penangkaran sarang burung walet di kawasnnya mengatakan akan melakukan penjajakan lebih dulu.

“Saya jajaki dulu pelan-pelan, karena saya masih baru menjabat di sini,” sebut Amon saat ditemui di ruang tunggu kantor Camat Bandar.

Informasi yang dihimpun Metro24jam.com, berdasarkan penelitian Mas Nurjito dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), setidaknya ada 24 penyakit yang bisa ditularkan burung walet.

Penyakit tersebut disebarkan melalui air liur, napas dan kotoran burung walet. Orang yang terkena virus dari burung walet biasanya merasa pusing, lemas dan lelah. Penyakit yang ditimbulkan sangat berbahaya.

Seperti dikutip dari , menurut Nurjito, jika virus tersebut menyerang sistem syaraf, orang tersebut bisa menjadi lumpuh. (age)